Menjadi Kader Persyarikatan di Bumi Gerbang Salam
Penulis Agus Yanto: Aktivis pemuda Muhammadiyah

Menjadi Kader persyarikatan (Kader Baru di bumi gerbang salam) yang baik bukanlah melihaat sebuah hasil, melainkan proses yang perlu selalu diupayakan dengan memperkuat bagaimana menjadi kader tangguh yang mempunyai daya juang yang tinggi. Di antara kader-kader yang baik itu, ada yang menjadi kader yang meperjuangkan kebaikan dan kebenaran (sekalipun diahir menjadi rasa yang pahit) tapi kami (kader) harus memiliki daya juang yang tinggi kita harus tetap semangat mengabdi agar kita bisa hidup menjadi pribadi yang unggul dan berarti. Ada pula yang unggul karena hebat dalam keilmuan; Bahkan ada juga yang unggul lantaran ekspansi karyanya yang luar biasa, begitulah menjadi kader di bumi gerbang salam ini (kira2)

Ibarat sebuah besi. Hanya mereka yang terasah secara terus meneruslah yang akan menjadi pisau yang tajam dan selalu mampu memotong dan menghancurkan kebatilan-kebatilan. Boleh jadi seorang kader persyarikatan memiliki kebaikan yang membuat mereka baik, sekalipun kebaikan kita dianggap tidak baik. (karena sejatinya menjadi kader benar tidak dipuji salah harus siap di caci) Begitu pula seorang kader persyarikatan yang bersemangat beramal tapi tidak diiringi dengan proses perkembangan logika dan naluriah yang sehat, maka cepat atau lambat akan segera “tumpul dan rusak”. (kita tunggu saja kehancurannya), Ini juga berlaku sebaliknya. Maka dari itu kita harus sering mengoreksi diri, agar kita mampu membenahi diri yang hina ini.

Terdapat sebuah pola yang mengagumkan, bahwa untuk tetap menjadi kader yang baik diperlukan satu syarat, yang mana syarat ini bisa menentukan kualitas daya tahan mereka dalam berjuang di persyaritan. Katakanlah ada kader yang sangat semangat berdakwah. Dalam satu pekan dirinya getol hadir di setiap pertemuan ataupun agenda-agenda dakwah tanpa terkecuali. Ini baik. Tapi setelahnya, batang hidungnya tak pernah kelihatan lagi. Bahkan untuk seterusnya. Inilah yang tidak baik. Begitu pula jika ada kader dakwah yang sehari nulis terus, itu baik. Tapi kalau besok-besoknya tidak nulis, itu dia yang tidak baik. Itu sebabnya, tanpa konsistensi, seorang tidak akan menjadi kader dakwah yang baik. Karena sekali lagi, predikat ‘baik’ adalah proses, bukan hasil. Maka itu perlu diupayakan terus menerus.

Kader persyarikatan harus tetap konsisten merawat marwah organisi ini dengan baik dan semangat, sekalipun kita dinilai tidak baik, karena yang namanya proses itu merupakan tujuan utama memjadi baik. Kalau kita sudah melaksanakan dengan arif dan bijaksana, pasti di hari esok kita akan tetap menjadi pejuang kebenaran yang abani, maka kita jangan pernah takut menjadi kader, katakan benar jika benar, katakan salah, jika salah, sekalipun kita merasakan pahitnya. Pejuang dimanapun tetap dikatakan pejuang, penjilat sekalipun dia berdasi dia kapapun akan tetap menjadi penjilat.

Pada akhirnya, kader pejuang ini hanya dapat dipikul oleh mereka yang memiliki konsistensi pada kebenaran. Meski banyak sebab yang mampu melemahkan mereka, tapi mereka selalu dan tetap bertahan dengan nilai juangnya. Kekuatan mereka terletak pada besarnya cinta mereka terhadap organisasinya, Bukankah cinta pada jabatannya. Bukan cinta namanya bila tidak disertai dengan keihlasan dalam berjuang.

Kemuliaan menjadi kader tidak pernah tertukar. Jikalau usaha yang mereka lakukan belum membuahkan hasil, itu tidak akan mengurangi sedikit pun kemuliaan mereka. Banyaknya cobaan yang diterima, tidak pernah melemahkan mereka. Kita semua harus menyadari tak ada kata gagal dalam perjuangan ini. Kita harus meyakini, bahwa keberhasilan sebuah perjuangan ini terletak pada hidayah dan pertolongan yang Allah berikan. Mereka hanya perlu berusaha maksimal, sisanya tawakal. Mereka meyakini betul, bahwa hakikat kegagalan sesungguhnya adalah ketika mereka berhenti mencoba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here